BENGKALIS | Metrotempo.co – Dalam rangka penanggulangan bencana Karhutla gambut di Desa Kelemantan Barat, Pemdes memantapkan pembentukan keanggotaan (KTPA) Kelompok Tani Peduli Api di Desa tersebut, Kamis (4/5/2023) yang dilaksanakan di Aula Rapat Balai Desa Kelemantan Barat, tujuannya karena bencana karhutla hampir setiap tahun terjadi di wilayah Desa tersebut.
(MPB) Masyarakat Peduli Bencana KTPA, merupakan Binaan lansung dari provinsi yang dulunya disebut(MPA) Masyarakat Peduli Api.
Luas lahan yang terbakar belum bisa diperkirakan, karena asal api berasal dari Desa Kembung Luar yang belum dapat dipadamkan secara maksimal, disebabkan karena jarak titik apinya sangat jauh dan sumber airnya juga sangat sulit.
Pihak Pemdes Kelemantan Barat belum dapat memprediksikan seberapa luas lahan yang terbakar. Pada saat ini, di Desa Kelemantan Barat sudah terlihat sudah ada titik api tepatnya perbatasan Kecamatan Bengkalis – Bantan.
Kades Kelemantan Barat Sabahar, menjadwalkan pada hari Sabtu nanti akan langsung turun ke lokasi titik api, sampai saat ini hanya berharap dan bergantung pada hujan.
“Pemadaman langsung belum ada, karena jauh serta sulitnya akses menuju ke titik api, dan masih suasana lebaran, cuma hanya berdasarkan dari hasil yang terlihat dari hot spot dari Hasil pantauan. Sedangkan hot spot pihak Polsek Bengkalis. Hot spot lancang kuning, hot spotnya hilang dan tidak terlihat karena kondisi lahan gambut. Tapi setelah cuaca panas dalam 2 hari baru nampak asap dan titik api”, ucap Kades Sabahar.
Lanjutnya, untuk peralatan yang digunakan, maen streker, drone, yang dananya dianggar kan oleh Pemdes Kelemantan Barat dari dana APBDes.
“Karena bantuan dari pemkab Bengkalis melalui instansi BPBD terkait sampai saat ini belum ada. Yang ada hanya dari Pemprov cuma mesin terlalu besar dan aksesnya terlalu jauh sehingga sulit untuk mencapai lokasi”, ujar Kades Sabahar.
Masih katanya Subahar, Pemdes dan masyarakat sangat berantusias untuk ikut madamkan titik api, cuma keadaan belum memungkinkan karena akses menuju lokasi masih terlalu jauh, jadi yang diberdayakan hanya MPA dan KTPA saja, yang beranggotakan 15 – 20 orang personil.
“Kegiatan ini sudah selalu dilakukan sejak memasuki musim panas dan kemarau, seperti mengevaluasi dan koordinasi, disamping menyiapkan Peralatan dan perlengkapan”, tutup Sabahar.
RN/ZN









