SIAK|metrotempo.co – Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kampung Buantan Besar, Kecamatan Siak yang selama ini menumpuk kini mulai di olah menjadi produk bermanfaat oleh Kelompok Pengelola Unit Bank Sampah Buatan Besar.
Berbekal alat seadanya, kelompok ini berhasil mengolah sampah organik menjadi pupuk organik yang diberi nama “PUPUK ORGANIC SIAK NUSANTARA” yang sudah dipakai petani hingga pelaku usaha pertanian di Kabupaten Siak.
Ketua Unit Kelompok Pengelola Bank Sampah, Joko Miftahudin mengatakan, setiap hari volume sampah organik yang masuk ke TPA mencapai 15 hingga 20 ton. Namun, keterbatasan alat membuat pihaknya baru mampu mengolah sekitar 5 ton per hari.
“Kalau sampah organik sebenarnya banyak, tapi bercampur plastik dan kain, jadi sulit dipisahkan karena alat kami masih seadanya baru bisa mengolah sekitar 5 ton sampah organik,” Ujar Joko.
“Selama beberapa bulan ini sudah sekitar 30 ton pupuk organik yang kami produksi,” Tambahnya.
Menurutnya, dalam proses pembuatan pupuk organik, pihaknya juga menambahkan bahan pendukung dari luar seperti kotoran ayam dan kotoran sapi agar kualitas pupuk lebih baik.
Pupuk organik hasil olahan tersebut kini sudah digunakan di berbagai sektor pertanian, mulai dari persawahan di Buatan Besar, greenhouse melon, tanaman jagung hingga kebun sawit masyarakat.
“Alhamdulillah sudah banyak yang pakai. Harga jual sekarang Rp130 ribu per karung untuk pengambilan di tempat,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada pengolahan sampah organik, kelompok ini juga memiliki rencana besar mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar (BBM) hingga bahan baku paving block. Namun, lagi-lagi keterbatasan alat menjadi hambatan utama.
“Kalau ada alat pemisah plastik dan alat pembakaran khusus, sampah plastik bisa diolah jadi seperti cairan, lalu dicetak menjadi paving block ukuran 30 Px 50. Permintaan sudah ada, tapi kami belum sanggup karena alatnya mahal,” katanya.
Selain peralatan, kondisi akses jalan menuju lokasi pengolahan juga menjadi kendala. Kelompok Bank Sampah berharap Pemerintah Kabupaten Siak dapat membantu perbaikan jalan serta pengadaan alat pemisah sampah yang lebih modern.
“Kami minta perhatian pemerintah. Kalau alatnya memadai semua sampah bisa diolah, tidak overload seperti sekarang. Kalau sampah tidak diolah dari sekarang, sampai kapan pun akan jadi gunung sampah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberadaan Unit Bank Sampah di area TPA tersebut mendapat izin pengelolaan dari Kabid DLH, John Effendi. Bahkan sebelumnya, berbagai kendala yang dihadapi kelompok itu juga sudah disampaikan kepada anggota dewan Sujarwo saat berkunjung ke lokasi.





